Alam Petungkriyono di Pekalongan yang memukau

Food & Travel


 

Pekalongan – Pekalongan bukan cuma punya batik. Kamu yang liburan awal tahun bisa mampir ke Alam Petungkriyono. Pemandangan cantik akan memanjakanmu di sana!
Kemana liburan awal tahun kali ini? Di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, banyak pilihan lokasi liburan bersama keluarga untuk menikmati sejuta keindahan alam.
Salah satunya di Petungkriyono yang merupakan bagian dari lereng sabuk Pegunungan Dieng. Di Petungkriyono ini, kita akan disuguhkan pemandangan yang menawan.
Saat perjalanannya ada hutan alam tropis, belasan air terjun, Puncak Tugu dengan track yang familier, hingga menikmati berbagai macam kuliner dan kopi khas Petung. Nah seperti apakah alam Petungkriyono ini?
Untuk menuju ke Kecamatan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan, tidaklah terlalu sulit. Jika perjalanan melalui jalur tol, arahkan kemudi kendaraan ke exit tol Soko-Duwet di Kota Pekalongan untuk keluar menuju Jalur Pantura.
Terpesona Alam Petungkriyono yang Indah di Pekalongan(Robby Bernardi/detikTravel)Dari jalur Pantura Kota Pekalongan ini, traveler langsung bisa menuju ke arah Ibukota Kabupaten Pekalongan dengan perjalanan sekitar 25 menit perjalanan ke arah selatan.
Dari ibukota Kabupaten Pekalongan yakni Kajen, untuk menuju ke Petungkriyono memakan waktu sekitar 50 menit perjalanan. Lumayan jauh. Namun, selama perjalanan rasa lelah kita terbayar dengan suguhan keindahan alam pedesaan.
Itu belum seberapa, saat memasuki wahana wisata Petung, wisatawan akan lebih mengagumi kebesaran pencipta. Di kanan-kiri perjalanan ada sebuah kawasan hutan alam yang selama ini tetap terjaga oleh masyarakat setempat.
“Hutan alam Petungkriyono ini merupakan satu-satunya hutan alam yang masih tersisa di Pulau Jawa, udaranya yang masih bersih dan asri,” jelas Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan.
Jangan berpuas di dalam kendaraan saja. Kita bisa turun dan nikmati suasana nyanyian alam hutan Petungkriyono. Oh ya, jalan bersapal ini memang sempit.
Ada baiknya memilih lokasi yang leluasa agar tidak mengganggu lalu lintas kendaraan lainnya. Bila beruntung, kita bisa melihat sekawanan Owa Jawa yang bergelantungan di pepohonan hutan.”Ini hutan yang menjadi habitat Owa Jawa terbesar kedua di Indonesia,” kata Asip Kholbihi.
Di hutan ini juga jadi habitat 60 spesies kupu-kupu dan bila beruntung pula kita akan disambut oleh teriakan Elang Jawa yang berputar-putar mengitari hutan, seakan mengantarkan kita menelusuri hutan alam.

Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati udaranya yang sejuk dan bersih. Rasanya sayang bila kita masih menikmati AC di dalam kendaraan saja
Perjalanan terus dilanjutkan masih tetap menyusuri jalan hutan alam. Di kanan kiri ada pemandangan yang menawan. Lepas kawasan hutan, kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam pedesaan yang indah dengan deretan sawah bertingkat menguning, menandakan bumi Petung yang subur.
Warga desa yang ramah dan murah senyum, sayang bila dilewati untuk tidak mampir menikmati secangkir kopi hangat khas Petungkriyono yang dijual di sepanjang jalur ini.
“Kopinya jenis arabika pipika. Keistimewaan kopi di Petung ini, tumbuh di tengah-tengah pohon aren. Kopi ini ada karakter arennya, manis seperti gula aren,” kata Purwo Susilo, salah satu pegiat wisata di Kabupaten Pekalongan ebebrapa wkatu lalu
Untuk menikmati secangkir kopi, tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam, yakni Rp 8 ribu untuk kopi susu dan Rp 6 ribu untuk kopi tarik.
Perjalanan terus berlanjut hingga sampai di Kecamatan Petungkriyono. Di sini kita bisa memilih tujuan wisata liburan kita. Ada banyak distinasi wisata yang disuguhkan di lereng sabuk Pegunungan Dieng ini.
Ada Curug Bajing, Curug Muncuar, Curug Lawe dan beberapa air terjun lainnya. Kalau traveler mau basah-basahan dengan air yang jernih dengan bebatuan alam yang memukau bisa datang ke Welo River Tubing. Ada pula dua puncak gunung yakni Puncak Tugu dan Puncak Rogojembangan.

“Ada puncak Tugu atau Puncak Merah Putih. Di puncak ini kita bisa melihat matahari terbit atau matahari terbenam dengan gugusan panorama gunung-gunung baik di barat maupun timur,” jelas Purwo Susilo.
Jangan takut, untuk menuju ke puncak ini ada pemandunya dengan jalan yang aman. Bagi keluarga sangat cocok pendakian ini. Kurang dari satu jam berjalan kaki santai, traveler sudah sampai di puncak dengan ketinggian 1.930 Mdpl. Di puncak rasa lelah ini terbayar dengan pemandangan yang memukau.
Pergantian tahun nampaknya di Puncak Tugu inilah spot yang kerap dijadikan pilihan keluarga untuk menyaksikan matahari untuk pertama kalinya terbit di awal tahun 2019 di alam Petung.
“Ada juga puncak Rogo Jembangan yang lebih tinggi dari Puncak Tugu, sekitar 2.177 Mdpl,” jelas Purwo.
Setelah menikmati keindahan alam, kita bisa turun dan berburu kuliner di Kabupaten Pekalongan. Ya, nasi megono, pindang tetel akan disediakan warung-warung kecil di pinggir jalan.
Nasi megono racikan dari cacahan nangka muda dengan bumbu dan kelapa muda sangat cocok dimakan dengan gorengan tempe kapanpun juga. Harganya juga murah. Satu pincuk (tempat membungkus nasi dari daun pisang) dapat dinikmati dengan uang Rp 2 Ribu.
Nah bagi pecinta buah durian, kita bisa menemukan para penjual durian di sepanjang jalur Kecamatan Doro sampai Ibukota Kabupaten. Harganya bervariasi dari Rp 25 ribu hingga Rp 150an ribu perbuah.
Untuk mengakhiri liburan, traveler bisa berbelanja batik di Pekalongan sebagai oleh-oleh. Ada banyak toko maupun pasar batik di sepanjang jalur ini. Lebih-lebih di jalur Pantura. Sampai di Jalur Pantura, traveler bisa kembali ke jalur tol, pulang dengan membawa sejuta kenangan liburan di Alam Petungkriyono. (dtk)



banner-ad