Indonesia Bakal Lakukan Uji Klinis untuk Corona, Siapa Sih Sebenarnya Penemu Vaksin?

Tech & Otomotif


INDONESIA akan melakukan uji klinis tahap III vaksin Sinovac dari China. Vaksin ini, diklaim mampu mencegah persebaran virus corona Covid-19.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan vaksin akan disuntikkan pada 1.620 orang dengan kriteria berusia 18-59 tahun. Vaksin sendiri berbeda dengan obat, lantaran digunakan untuk pencegahan dan bukan untuk mengobati.

Lantas, siapa sih yang pertama kali memiliki ide untuk melemahkan virus dan digunakan sebagai Vaksin? Pasalnya, Vaksinasi mungkin telah digunakan sejak zaman kuno di China, India, atau Persia.

Awalnya sekitar 3.000 tahun yang lalu di Dinasti Mesir, muncul keberadaan penyakit cacar. Kemudian penyakit cacar menyebar ke India melalui para pedagang Mesir, dan terus menyebar hingga muncul di Cgina (1122 SM) dan dibawa ke Jepang pada abad ke-16.

banner-ad

Vaksin Corona

Baca Juga: Agustus, 1.620 Orang Indonesia Bakal Disuntikkan Vaksin Made in China

Di Eropa cacar muncul antara abad ke-5 dan ke-7, hingga akhirnya tersebar luas di seluruh dunia pada abad ke -18 hingga menewaskan 400.000 orang setiap tahun di Eropa saja. Hingga akhirnya mereka menemukan “variolation” pencegahannya.

Langkah-langkah ini dicoba dengan memasukkan sampel dari vesicles cacar ke kulit yang tergores, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Proses ini disebut variolation atau inokulasi, dipraktikkan di Cina selama abad ke-10.

Di inggris variolation diperkenalkan oleh Lady Mary Wortley Montague (1689-1762), yang menjadi korban cacar dan menujukan efektivitasnya pada anak-anaknya sendiri. Namun, metode ini sebenarnya cukup berisiko karena orang yang diinokukasi menderita serangan penyakit yang agak ganas.

Melansir explorable, akhirnya dokter dan ilmuwan Inggris, Edward Jenner mengembangkan dan menggeneralisasi teknik vaksinasi terhadap penyakit cacar. Eksperimen dan investigasinya itu berhasil mengubah dari keyakinan tradisional menjadi prosedur standar untuk menyelamatkan jutaan nyawa.

Penemuan inovatifnya itu menjadi dasar bagi imunologi modern, ia mendapatkan julukan Bapak Imunologi. Pada tahun 1796 Jenner melakukan eksperimen, ia mengamati bahwa pemerah susu terkena cacar sapi justru tidak mengalami cacar setelah variolation.

Kemudian Jenner menginokulasi bocah lelaki berusia 8 tahun, James Phipps menggunakan zat dari cacar sapi seorang pemerah susu, dan mengamatinya. Setelah mengulangi percobaan selama beberapa bulan ternyata bocah lelaki itu semakin kebal dan tidak pernah terkena cacar.

Dengan eksperimen empirisnya, Edward Jenner menunjukkan fakta ilmiah ini bahwa infeksi cacar sapi mampu memberikan kekebalan terhadap cacar. Bahkan hipotesis ini dibuktikan jauh sebelum penemuan mikroba dan teori penyakit kuman.

Edward Anthony Jenner sendiri lahir pada 17 Mei 1749 di desa kecil Berkey di Gloucestershire, Inggris. Dan meninggal pada 26 Januari 1823, di usia 73 tahun akibat penyakit stroke yang dideritanya.