Kisah Sate Matang dari Bireuen Aceh, Apa Keunikannya?

Food & Travel


Aceh – Berkunjung ke Bireuen, Aceh, Sate Matang, adalah kuliner yang tak boleh dilewatkan. Salah satu tempat yang paling favorit, ada di sekitar delapan kilometer dari pusat Kabupaten Bireuen, Aceh.

Di lokasi tersebut, kepulan asap dari arang yang membakar potongan dadu daging kambing maupun sapi dalam tusukan bambu mambuat aromanya menyambar penciuman.

Nama Sate Matang bukan berarti karena sate ini sudah dimasak kemudian menjadi matang, akan tetapi namanya diambil dari daerah tempat sate ini dikenalkan, sejak tahun 90-an, yaitu di Matangglumpang Dua.

Area itu kesohor sebagai pusat kuliner di Kabupaten Bireuen. Selama 24 jam, ia nyaris tak pernah tidur. Ada saja pelintas antar-kota yang singgah.

Kebanyakan dari mereka bermaksud beristirahat sambil menikmati hidangan Sate Matang. Tak heran jika hampir di beberapa warung kopi di Matangglumpang Dua tidak hanya menyediakan kopi saja, tapi juga sate ini.

Salah satu mahasiswa Universitas Syiah Kuala asal Kabupaten Aceh Tamiang, Sri Atina Putri mengatakan, dirinya kerap menikmati kelezatan sate matang langsung di tempat asal sate ini.

banner-ad

Menurutnya, sate matang yang berada di tempat asalnya ini lebih enak dibandingkan ketika sudah berada di daerah lain.
ilustrasi sate (pixabay.com)
“Nggak sering sih makan Sate Matang, hanya kalau pulang kampung aja. Rasanya lebih enak kalau makan di tempat aslinya sate ini,” katanya.

Selain rasanya yang enak, keunikan dalam penyajian sate ini juga menjadi daya tarik tersendiri, seperti para pembuatnya yang akan membanting botol kecap ke atas meja ketika akan menghidangkan sate.

Salah satu pedagang Sate Matang, Zulfikar, ketika ditanya alasannya membanting botol kecap, ia mengatakan, sebenarnya mereka tidak memiliki alasan khusus, hanya untuk menjadikannya terlihat lebih menarik, seperti lebih banyak pelintas yang berkunjung karena penasaran, dan lain sebagainya.

“Kalau untuk banting kecap itu, sebenarnya nggak ada maksud apa-apa. Cuma biar keliatan lebih unik. Lebih buat orang penasaran,” katanya.

Awalnya bahan utama Sate Matang adalah daging kambing, kemudian seiring berjalannya waktu, banyak pedagang yang beralih menggunakan daging sapi, meskipun demikian tetap ada di beberapa tempat yang masih menyajikan Sate Matang berbahan daging kambing.

Proses pembuatan Sate Matang ini sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sate-sate pada umumnya. Hanya saja, dari segi rasa serta penyajiannya yang sedikit berbeda. Sate Matang tidak hanya disajikan dengan bumbu kacang saja, akan tetapi juga dilengkapi dengan kuah soto.

Sebelumnya, Sate Matang telah lebih dulu dilumuri bumbu yang kaya akan rempah-rempah. Kemudian dibakar di atas bara arang sekitar lima belas menit.

Untuk kuah sotonya, biasanya menggunakan kaldu daging sapi atau kambing yang dimasak dengan bumbu khusus. Di dalam kuah soto ini biasanya terdapat potongan lemak daging dan juga kentang.

Dari segi rasa, Sate Matang memiliki rasa manis dengan perpaduan kuah soto yang gurih.

Perpaduan rasa yang khas ini kemudian menarik pecinta kuliner untuk mencobanya. Sate Matang dapat dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang senilai Rp25.000 per porsinya atau Rp3.000 per tusuknya.

Banyaknya peminat sate ini, pedagang biasanya menghabiskan sepuluh kilogram daging sapi setiap harinya, dan akan meningkat ketika sedang musim mudik. “Biasanya kami setiap hari menghabiskan sepuluh kilogram daging sapi. Mungkin bertambah kalau musim mudik,” kata Zulfikar. (ant/wan)