Lembah Tumpang, Surga Tersembunyi di Kabupaten Malang

Food & Travel


Malang – Kecamatan Tumpang di Kabupaten Malang menyimpan wisata estetik dengan ribuan patung berbentuk arca, bernama Lembah Tumpang. Tempat dimana alam dan seni menyatu padu membentuk harmoni yang indah

“Kenapa diberi nama Lembah Tumpang karena ini letaknya di Tumpang. Dan area inikan lembah, kalau dari sawah-sawah di atas ini turunnya sekitar 15 meter,” ungkap Pemilik Lembah Tumpang, Yogi Sugito, seperti dilansir dari Kumparan, Kamis (10/9).

Dibangun sejak 2015, Lembah Tumpang baru dibuka umum pada 2017 sebagai objek wisata.

“Kalau menurut saya wisata itu harus beda. Kemudian kenapa kami sekeluarga memilih klasik, karena kami semua adalah pecinta seni,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Yogi sekeluarga membangun tempat wisata berkonsep Kerajaan Majapahit dan Singhasari.

“Terutama kami juga mengenang masa-masa kejayaan Nusantara. Terutama saat masa Kerajaan Majapahit dan Singhasari. Karena itu kalau dilihat bangunannya kalau tidak nuansa Majapahit ya Singhasari,” jelasnya.

banner-ad

Tak tanggung-tanggung, setidaknya ada 2 ribu patung menghiasi setiap sudut area terbuka ini.

“Kalau patung/arca jumlahnya sekitar 2 ribu patung, kalau patung ini sebenarnya anak saya yang suka sampai hafal nama-namanya,” bebernya.

Yogi mengungkapkan, dia membeli patung-patung ini langsung dari produsennya.

“Saya biasanya pesan patung-patung ini di Trowulan, Mojokerto. Ada satu kampung itu isinya memang pembuat patung sejak jaman dulu,” ujarnya.

Selain kesenian dan alam, Lembah Tumpang juga menawarkan kolam renang dan kolam koi yang indah.

“Kalau di sini yang utama itu adalah kolam renang dan kolam koi. Karena kita memanfaatkan sumber air dari dalam tanah yang berlimpah,” paparnya.

“Dan dari segi kejernihannya, sterilisasinya, dan kesehatannya itu bisa diminum langsung. Juga air kolam ini setiap hari ganti terus, karena airnya berputar terus dari sumber air,” sambungnya.

Total ada 6 lokasi kolam renang untuk anak-anak sampai dewasa di Lembah Tumpang. Selain itu, tempat ini juga biasa digunakan untuk tempat event.

“Di sini bisa saja untuk event-event pernikahan, biasanya juga kebanyakan untuk acara reuni. Ada juga yang camping, karena disediakan camp ground,” ucap Mantan Rektor Universitas Brawijaya (UB) ini.

Pria yang kini menjabat Ketua Laboratorium Fakultas Pertanian UB ini mengungkapkan, dirinya sekeluarga tetap tinggal di Lembah Tumpang.

“Saya sekeluarga tinggal di sini semua, tepatnya di rumah induk itu. Biasanya kalau malam minggu kita kumpul satu keluarga besar,” ucapnya.

Kini, lebih dari 20 orang dipekerjakan Yogi untuk mengurus kebersihan dan perawatan bangunan dan patung. “Ini yang saya pekerjaan ada banyak, untuk yang bersih-bersih saja ada 20 orang,” bebernya.

“Pekerja ini semua adalah warga lokal sini, mulai dari tukang sampai kebersihan” imbuhnya.

Dengan luas lahan total 8 hektare, dia mengatakan baru 75 persen lahan yang dibangun.

“Kedepannya ini akan dibangun penginapan, karena ke depan konsepnya resort. Karena areanya luas, pembangunan penginapan ditunda dulu,” ungkapnya.

“Rencananya saya mau buat gazebo-gazebo di belakang, karena lokasinya sepi. Juga ada penginapan untuk turis-turis yang utamanya mau ke Bromo,” lanjutnya.

Lokasi Lembah Tumpang sendiri juga strategis karena dekat dengan exit tol Sawojajar yang hanya berjarak 1 jam.
Untuk bisa masuk Lembah Tumpang, harga tiket masuknya senilai Rp 60 ribu setiap orang.

“Tapi setiap masuk itu bebas semua kecuali makan, karena kita sudah menyiapkan kantin juga,” ucapnya.

“Ada juga flying fox itu hanya Rp 10 ribu saja per orang,” pungkasnya.(kmp)