Tuan Rumah Rakernas, ASPPI NTB angkat Pesona Wisata Desa dan Bangunan tua Kolonial

Food & Travel


 

Lombok, Playboyid.com – Salah satu upaya Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan pariwisata Lombok dan NTB umumnya yang sempat lumpuh akibat bencana gempa bumi beruntun yang terjadi di pengujung Juli hingga Agustus 2018.
ASPPI NTB mencoba mengangkat potensi wisata itu dengan menggelar Lombok Travel Mart VI dengan konsep desa persawahan dan bangunan tua peninggalan zaman penjajahan Belanda di Desa Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah pada 1-3 Maret 2019
Ketua Panitia Lombk Travel Mart (LTM) VI Leja Kodi mengatakan kalau di LTM sebelumnya yang diusung tema wisata museum, pantai, air terjun, dan hotel sebagai lokasi utama.
Namun Lombok Travel Mart VI ini, ASPPI mencoba mengusung sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Konsepnya “heritage” desa persawahan dan bangunan tua peninggalan zaman Belanda.
Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dipilih sebagai lokasi LTM VI karena desa yang pada “tempo doeloe” disebut Bondjeroek pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda di Lombok.
Bangunan bersejarah ini masih bisa dilihat pada arsitektur bangunan-bangunan tua berhaya “art deco” yang ada di desa tersebut. Seperti bangunan puri atau pusat perkantoran peninggalan Bondjeroek Hindia Belanda, bangunan rumah peninggalan Belanda dan sebuah masjid bernama Masjid Raden Nunu Unas.
Desa ini kaya dengan nila-nilai sejarah dan bangunan sisa peninggalan penjajahan Belanda, sehingga ini yang coba diangkat di Lombok Travel Mart kali ini, sebuah desa dengamn cita rasa Belanda.
Wanita yang akrab disapa Ingoe ini, mengungkapkan selain memiliki bangunan peninggalan Belanda. Desa Bonjeruk juga memiliki atraksi budaya serta kuliner yang khas sehingga ini mempertegas bahwa Lombok memang kaya destinasi wisata yang beragam yang tidak di tempat lain.
Jadi ketika berbicara mengenai Lombok tentu tak hanya soal pantai nan eksotik atau air terjun yang memesona dan gunung menjulang tinggi yang menantang, tetapi ada kekayaan alam lain yang sesungguhnya memiliki potensi untuk bisa di jual, yakni Lombok kaya dengan nilai sejarah atau “heritage”.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB Badrun mengatakan di Lombok Travel Mart VI akan diikuti 150 “buyers” domestik dan mencanegara, di antaranya Malaysia dan Singapura serta Korea Selatan. Sedangkan, sellers setidakanya akan melibatkan 50-an terdiri dari hotel dan travel agent di NTB.
Mengenai kepastian kehadiran para pembeli itu, dari 150 buyers ini sudah mengkonfirmasi keikutsertaan mereka di Lombok Travl Mart VI.
Nantinya mereka juga diajak menikmati suasana desa dengan areal persawahan, termasuk berkeliling ke destinasi wisata seperti Mandalika.
Selain itu, Lombok Travel Mart VI ini juga akan dirangkai dengan rapat kerja nasional (Rakernas) ASPPI yang akan di ikuti seluruh DPD ASPPI di seluruh Indonesia.
Dalam rakernas itu ASPPI akan mencoba membahas isu-isu yang sedang mendera pariwisata, terutama sekali mengenai kenaikan tiket penerbangan dan pemberlakuan bagasi berbayar yang kini membebani industri industri pelancongan di “Pulau Seribu Masjid” ini.
Jika kabupaten dan kota lain di Pulau Lombok dikenal dengan panorama pantai berpasir putih nan eksotis serta pemadangan bawah laut yang dihiasi berbagai biota laut yang memesona, maka di Lombok Tengah para wisatawan bisa menikmati suasana pedesaan dengan hamparan persawahan yang menghijau.
Berkat pesona hijau alam yang dimiliki Kabupaten Lombok Tengah, ada banyak desa wisata yang menawarkan kedamaian dapat ditemui di wilayah ini. Di belakang Desa Wisata Sade yang sudah tersohor ke penjuru dunia, ada pula Desa Wisata Bonjeruk yang mulai naik daun. (ant/wan)